Salah kok bangga


Dimulai sekitar 3 tahun yang lalu, begitu bangganya saya ketika berhasil naik kereta api, yang untuk pertama kalinya tanpa tiket. Dengan hanya berbekal dua puluh ribu, sudah bisa mudik dari Jakarta ke kampung, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Padahal harga tiket saat itu adalah Lima puluh lima ribu rupiah sekali jalan (sekarang malah harga tiket resmi Rp. 70.000,– dan kalau nembak cuma Rp. 25.000,-) Tentu saja dengan kongkalikong dengan petugas kereta api. Nyaman?? Tentu tidak, karena kita harus tidur di lorong kereta, kadang malah tidur di ruang diesel yang bau oli dan bising (Teman-teman menyebut sebagai kandang macan, karena bentuknya yang mirip). Aman?? Pasti, karena ada koordinator rombongan yang bisa melobby petugas kereta, sehingga walaupun tanpa tiket, petugas kereta bahkan menganggap kita sebagai keluarga. Berbeda jika kita nembak di atas kereta tanpa rombongan (single fighter), pasti kena semprot kondektur duluan, meskipun akhirnya diterima juga uang nembaknya.
Duh, bangganya saat itu. Melihat orang-orang yang susah payah membeli tiket, kita bisa tersenyum dan seakan-akan ingin bilang “Naik kereta api kok pake tiket, rugi mas!!!”.
Dan, hematnya itu yang bikin aku selama dua tahun setia mondar-mandir jakarta-kampung tiap minggu tanpa beban.

Akhirnya, kesadaran itupun datang.
Dalam agama, kita disuruh bayar zakat, lha ini, aku kok malah mengurangi hak orang lain. Gimana nihh??
Belum lagi teorinya Ustadz Yusuf Mansyur, jika kita pengen dibukakan pintu rezeki, bersedekahlah!!!
Kalo gitu, pas kita ngambil uang yang seharusnya hak orang lain, berarti kita telah menutup pintu rejeki, menguncinya dan kemudian membuang kunci ke laut. Gitu kali yaaa!!!

Dan sekarang, sejak enam bulan yang lalu kesadaran itupun muncul.
Jadi, semoga anda yang mengenalku, nggak pernah lagi ketemu aku di gerbong kereta api tanpa tiket.

Semoga kesadaran ini tidak berhenti hanya di sini
Dan semoga kesadaran hal yang lain segera mendekati hati ini


Satu Tanggapan

  1. Saya salut, Mas Eko. Sebagai “Manusia Biasa” kadang ada saja alasan pembenaran yang bisa kita cari-cari agar tidak merasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya memang salah. Dan ternyata untuk menuju kebaikan itu butuh proses juga ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: