Touring nekad


Melintasi empat pulau dengan motor?? Kalau pake motor gede, trus rombongannya banyak sich biasa. Lha ini, empat pulau dilalui hanya dengan motornya copet (pasti tau lah), apa bukan nekad namanya.

Beberapa taun yang telah lewat, berdua dengan temen yang juga sama nekadnya (beliau cuman pake bebek F1ZR), kita melibas ujung timur Sumbawa sampai Jawa Tengah. Padahal kita berdua sama sekali belum pernah di atas motor sampai ratusan km sebelumnya. Persiapan pun cuman sekedarnya, yang penting tas siap dengan oli samping.
Ada perbedaan semangat dalam perjalanan berangkat hingga balik ke Bima lagi.
Dua hari dua malam dalam perjalanan dari Bima ke kampoeng(termasuk istirahat di jalan ngademin motor, sempat pecah ban juga, pas malam lagi) serasa ringan, gak ada capek. Dan rasanya cepat banget.
Tapi pas balik ke Bima, aduh boss, jalanan serasa lebih panjang dari yang kemaren dilalui. Dua hari rasanya seminggu. “Kok nggak nyampe-nyampe ya Goen?” Keluhku pada teman seperjalanan. Capek dehh

Mungkin, semangat pulang kampung yang bisa menambah energi hingga kami berdua kuat sampai di tempat tujuan. Dan mungkin karena tanpa semangat, sehngga perjalanan yang sama jaraknya bisa terasa lebih jauh.
Semangat, mungkin itu kata kunci agar tujuan bisa tercapai dengan lebih mudah (setidaknya terasa lebih mudah)


2 Tanggapan

  1. Itulah semangat darah muda kita dulu. namanya juga bujang, jangankan cuma 1.350km (setidaknya itulah yang aku hitung pada tachometer motorku,tidak termasuk perjalanan lautnya),lebih pun waktu itu sanggup aja. Tapi yang gak akan pernah terlupa, ketika aku mengalami kecelakaan ketika perjalanan baru dimulai beberapa kilometer dari kantor. saat itu kami berangkat habis subuh setelah makan sahur(kita waktu itu mau pulang lebaran). Jadi kami berdua ( Saya & Eko Super ini) sengaja berangkat subuh supaya sebisa mungkin malam sudah tiba di Pulau Bali. Mungkin karena saking semangatnya, waktu itu motor saya pacu pada kecepatan sekitar 115km/jam. Motor memang aku persiapkan untuk bisa lari kencang berhubung untuk perjalan jauh. Pada saat melewati jalanan cembung karena ada jembatan, tiba-tiba sekelompok kerbau kurang lebih 20 ekor berbaris memenuhi jalan seakan menyambutku. Dalam keadaan yang sangat singkat itu spontan aku tekan rem depan dan belakang bersamaan. Tapi walaupun suara ban motor udah menjerit, tetap saja tabrakan tidak terhindarkan. Braakk!! Alhamdulillah aku masih sempat pilih nabrak anakan kerbau. Walhasil,aku pun nyosor dan kerbaunya juga terguling kelojotan tapi trus bangun lagi. Lah,kalau aku dapat biangnya kerbau yang tanduknya kayak banteng itu apa gak jadi sate tuh. Itulah kecelakaan pertama dalam sejarah hidupku naik motor dan cuma Ekolah saksinya. Akhirnya dengan lutut bonyok, celana robek,kemudi motor miring dan kepala motor sedikit pecah perjalanan tetap dilanjutkan sambil mencari bengkel. Tapi berhubung masih pagi ditambah hujan gerimis,belum ada bengkel buka dan baru menemukan bengkel pada dua kota berikutnya yang berjarak sekitar 150km dari tempat kecelakaan. Sepanjang jalan itu, lutut bonyokku aku bungkus plastik untuk menghindari perihnya air hujan. Tapi bagaimanapun semangat mudik pantang mundur! Hebatnya lagi, pada hari itu kami berdua tetap bisa melaksanakan puasa dan baru buka puasa menjelang penyebrangan kedua. Setelah sampai di Jawa timur tepatnya di kota Mojoagung kami berdua malam itu terpisah jalan karena sama² belum tahu arah. Namun Alhamdulillah di luar kota kami bisa ketemu lagi walau aku sempat cari² karena posisiku ada di depan. Sepanjang perjalanan ketika kami mengisi BBM, banyak orang yang nanya kami dari mana,maklum plat motor kami pasti asing bagi mereka. Ketika kami jelaskan,mereka geleng² kepala. Mungkin pikir mereka,gila juga ni anak naik motor dua hari dua malam cuma istirahat di ferry & di jalan? Sampai di kota Solo jam 4 pagi dan kami harus istirahat di pinggir jalan karena pandangan Eko waktu itu sudah ngaco. mosok ada satu mobil dia lihat dobel? mungkin karena terlalu forsir,kecapekan akhirnya kami putuskan untuk tidur nggembel di pinggir jalan. esok paginya, dengan segala perjuangan akhirnya kami sampai di kampung halaman dengan selamat setelah dalam perjalanan sempat adu balap liar dengan beberapa sesama pengendara lain. Nah,pas baliknya ini. lhawong jalannya saja sama kok rasanya bisa lain? perasaan motor udah dipacu gas pol tapi kok gak nyampai²? cilakanya lagi,aku kembali mengalami kecelakaan ketika memasuki kawasan hutan baluran di Jatim. lagi-lagi Ekolah saksinya kecelakaan keduaku. Tapi Alhamdulillah, walaupun pada waktu itu kecepatan motor sangat tinggi sekitar 90km/jam,sedikitpun aku tidak terluka. setelah dua hari perjalanan akhirnya tibalah kami di Bima kembali dan kami disambut dengan suasana mencekam. Maklum waktu kami tiba di Bima baru terjadi kerusuhan. Sungguh pengalaman yang gak bakal terlupa dalam hidup kami.

  2. Saya pernah Jogja – Kebumen naik motor dan kapok! Nggak ada kesan apapun di jalan selain capeknya minta ampun. Tapi saya tetep ikut PMC lho!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: