Cita-cita


Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi orang yang sukses. Ukuran sukses bagi kebanyakan orang seangkatan Bapak saya adalah menjadi Pejabat, entah Presiden, Menteri, Bupati, minimal menjadi Pegawai Negeri. Enggak heran, sampai sekarangpun kalau ada lowongan pegawai negeri peminatnya pasti bejibun.
“Nak, belajar yang rajin biar jadi orang pinter. Kalau pinter kamu bisa jadi Presiden, Menteri, Gubernur”. Inget nggak sampeyan dulu dinasehati Bapak kayak gitu.
Sangat jarang orang tua dulu menasehati “Nak belajar yang rajin, agar kamu bisa mengatur hidupmu sendiri, bisa menjadi pengusaha yang sukses, supaya kamu bisa hidup dan bisa menghidupi orang lain”. Saya ucapkan selamat, kalau anda sempat dapat wejangan seperti ini di tahun 70-80an.

Kira-kira gimana jawaban anak sekarang kalau dikasih nasehat kayak contoh yang pertama ??
“Iya pak, Gede jadi Presiden. Trus turunnya gara-gara dipaksa rakyat kayak mbah Harto gitu” atau
“Jadi menteri, begitu lengser diseret ke pengadilan gara-gara punya dana nonbajeter yang dipake buat biaya kampanye. Yang kampanye enak, kita kena getahnya. Capekk dehh”
“Bupati, Gubernur, Menteri bahkan Presiden gak bakalan kaya tanpa Korupsi” Anak yang lain njawab. Jadi kalau mau kaya jangan jadi pejabat.

Coba kalau nasehat yang kedua yang sering kita dengar zaman dulu, mungkin saat ini bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang besar. Besar bukan karena menghargai jasa pahlawan saja, tetapi besar karena mempunyai jutaan pemuda yang berjiwa wirausaha, yang kreatif, yang mampu menaklukkan dunia. Mungkin bukan China yang jadi macannya Asia, tapi Indonesia.

Mimpi (mode : on) Ketika ada lowongan menjadi pegawai negeri sejumlah 2000 orang, yang mendaftar cuma 400 orang. Padahal syarat minimalnya cuman S1 dengan IP 1.5.
Mimpi (masih mode : on) Ketika ada seminar tentang wirausaha, seminar tentang motivasi, tiket sejumlah 5000 lembar seharga 500 dollar langsung ludes dalam sekejap.

Sayang, masih mimpi. Karena otakku sudah terformat bangga menjadi kuli negara.

Mimpi (mode : off)

Satu Tanggapan

  1. Mimpi? Saya lebih suka cita2 daripada mimpi, karena walaupun mirip menurut saya ada perbedaan juga diantara keduanya.
    Penetapan suatu cita2 (bukan mimpi) bagi saya menjadi titik awal penetapan suatu tujuan, dengan penetapan tujuan yang jelas maka kita bisa menetapkan rute terbaik untuk pencapaian tujuan tsb.
    BTW saya sampai sini karena tertarik dengan nama “manusia biasa” karena secara kebetulan nama blog saya juga “manusia biasa” hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: