Ketika Singkong melawan Ginseng


Sebagai seorang yang bukan penikmat sepakbola, hanya sedikit pertandingan sepakbola baik lokal maupun manca yang sempat saya saksikan. Kali ini, di AFCCup, ada dua pertandingan tim Indonesia yang saya tonton yaitu ketika Indonesia dikalahkan Arab Saudi dengan 1-2 dan baru saja ketika Indonesia kalah dari Korea Selatan 0-1 (SBY juga cuman nonton dua pertarungan ini saja). Pas melawan Bahrain, saya nggak nonton (lagi dipanggil untuk rapat kabinet).
Kemarin, ketika melawan Arab Saudi, permainan yang bagus diperlihatkan oleh para pemain Indonesia (setidaknya begitulah komentar teman-teman penikmat bola). Makanya hari ini, mulai setengah lima sore, saya dan teman-teman sudah nongkrong di depan tivi.
Dua kali empatpuluhlima menit (lebih dikitt, injury time diitung juga), ternyata permainan anak-anak Indonesia belum mampu mengimbangi kekuatan bangsa Korea.
Sebagai orang yang hanya sedikit tau tentang sepakbola, izinkanlah saya untuk berkomentar tentang kekalahan Indonesia dari Negeri Ginseng ini. Yang setuju boleh unjuk jari :
Menurut saya, tim Indonesia kalah karena :

  1. Karena tim kita main disaksikan oleh SBY saya. Mungkin kalau saya dan SBY nggak nonton, tim kita bisa menang melawan Arab maupun Korea. Kayaknya Punaryo dkk pada minder sama saya.
  2. Sebagian besar penduduk Indonesia nonton hanya melalui TV, enggak langsung ke Senayan. Dan menurut survey ngawur, sebagian besar penonton TV menggunakan TV merk S*ms*ng yang notabene produk Korea. Coba pakai tipi merk POLYTRON atau AKARI, mungkin kesempatan menang melawan korea lebih besar.
  3. Kostum yang dipake tim kita warna putih. Wong bendera kita aja merahnya di atas, putih di bawah. Kata orang jawa “Kalah Awu”. (Tapi kemaren pake merah, kok kalah juga ya)
  4. Minuman orang Indonesia yang paling berkhasiat cuma kopi ginseng merk C*I (Suerr, bukan iklan). Di situ kan cuman kopi yang dikasih sedikit extract ginseng. Lha kalo orang korea minumnya Jus Ginseng yang ditambah sedikit extract kopi. Dengan doping seperti itu, buat balapan lari sudah pasti kita kalah.
  5. Sepertinya di Liga Indonesia, waktu yang dipakai oleh PSSI bukan 2 kali 45 menit. Mungkin hanya 2 x 40 menit (atau kurang yach). Buktinya ketika di AFCCup, pemain Indonesia selalu ngos-ngosan ketika pertandingan mendekati menit ke 80. Beda sama pemain Arab dan Korea yang nampak masih bugar sampai menit ke 92.
  6. Dari tinggi badan, tim kita termasuk yang paling pendek dibandingkan tim yang lain. Jadi kalo ada bola atas, para pemain kita cuma bisa nonton doang. Mungkin kedepannya, kita butuh bantuan Mak Erot untuk menambah panjang tinggi badan.


Begitulah sedikit kesimpulan dari seorang yang baru sedikit tau tentang sepakbola.
sING PENTING, Menang atau Kalah, enggak ada tawuran

VIVA OLAHRAGA INDONESIA
Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.
Di dalam gaun yang sehat, terdapat tubuh yang Semlohayhat pula. Ha..lahh.

4 Tanggapan

  1. Analisa yang hebat, Mas.
    Tp mungkin tim kita memang ngalah (?), biar ngga dibilang jago kandang…

  2. mungkin juga karena bonusnya kurang besar mas, sehingga pemain kita kekurangan tenaga saat main bola…!

  3. Setuju dengan analisa yang ini. Karena saya juga babar blazzz nggak demen bola.
    Kalo’ mau menang harusnya Mbah Maridjan jadi supporter nya tuh.

  4. Mudah-mudahan “talinya” nggak putus biar nggak keliatan.kekekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: